seisi ruangan
hening dan turut serta larut dalam
emosi kepedihan pak Habibie, apalagi
aku tanpa terasa air mata mulai
menggenang.
Dengan suara bergetar dan setengah
terisak pak Habibie melanjutkan…………
…………
“Dik, kalian tau……………..2 minggu
setelah ditinggalkan ibu…………suatu
hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki
dan berjalan mondar-mandir di ruang
keluarga sendirian sambil memanggil-
manggil nama ibu……… Ainun………
Ainun …………….. Ainun …………..saya
mencari ibu di semua sudut rumah.
Para dokter yang melihat
perkembangan saya sepeninggal ibu
berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam
waktu 3 bulan jika terus begini…………..’
mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus
tolong Habibie’.
Para Dokter dari Jerman dan Indonesia
berkumpul lalu saya diberinya 3
pilihan;
1. Pertama, saya harus dirawat, diberi
obat khusus sampai saya dapat
mandiri meneruskan hidup. Artinya
saya ini gila dan harus dirawat di
Rumah Sakit Jiwa!
2. Opsi kedua, para dokter akan
mengunjungi saya di rumah, saya
harus berkonsultasi terus-menerus
dengan mereka dan saya harus
mengkonsumsi obat khusus. Sama
saja, artinya saya sudah gila dan harus
diawasi terus……………
3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka
untuk menuliskan apa saja mengenai
Ainun, anggaplah saya bercerita
dengan Ainun seolah ibu masih hidup.
Saya pilih opsi yang
ketiga……………………….”
Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat
sesuatu (kita yang biasa
mendengarkan beliau juga pasti
maklum bahwa gaya bicara pak
Habibie seperti meloncat kesana-
kemari dan kadang terputus karena
proses berpikir beliau sepertinya lebih
cepat dibandingkan kecepatan
berbicara dalam menyampaikan
sesuatu) …………………. ia melanjutkan
pembicaraannya;
“Dik, hari ini persis 600 hari saya
ditinggal Ainun…………..dan hari ini
persis 597 hari Garuda Indonesia
menjemput dan memulangkan ibu
Ainun dari Jerman ke tanah air
Indonesia…….
Saya tidak mau menyampaikan ucapan
terima kasih melalui surat…………. saya
menunggu hari baik, berminggu-mingg
u dan berbulan-bulan untuk mencari
momen yang tepat guna
menyampaikan isi hati saya. Hari ini
didampingi anak saya Ilham dan
keponakan saya, Adri maka saya,
Habibie atas nama seluruh keluarga
besar Habibie mengucapkan terima
kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda
Indonesia telah mengirimkan sebuah
Boeing B747-400 untuk menjemput
kami di Jerman dan memulangkan ibu
Ainun ke tanah air bahkan
memakamkannya di Taman Makam
Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan
besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi,
saya mengucapkan terima kasih atas
bantuan Garuda Indonesia”
Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak
kuasa lagi membendung air
mata…………………………
Setelah jeda beberapa waktu, pak
Habibie melanjutkan pembicaraannya;
“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati
kepada Ainun, lalu beberapa kerabat
menyarankan agar semua tulisan saya
dibukukan saja, dan saya
menyetujui…………………
Buku itu sebenarnya bercerita tentang
jalinan kasih antara dua anak manusia.
Tak ada unsur kesukuan, agama, atau
ras tertentu. Isi buku ini sangat
universal, dengan muatan budaya
nasional Indonesia. Sekarang buku ini
atas permintaan banyak orang telah
diterjemahkan ke beberapa bahasa,
antara lain Inggris, Arab, Jepang…..
(saya lupa persisnya, namun pak
Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa
asing).
Sayangnya buku ini hanya dijual di satu
toko buku (pak Habibie menyebut
nama satu toko buku besar), sudah
dicetak 75.000 eksemplar dan langsung
habis. Banyak orang yang ingin
membaca buku ini tapi tak tahu
dimana belinya. Beberapa orang di
daerah di luar kota besar di Indonesia
juga mengeluhkan dimana bisa beli
buku ini di kota mereka.
Dik, asal you tahu…………semua uang
hasil penjualan buku ini tak satu
rupiahpun untuk memperkaya Habibie
atau keluarga Habibie. Semua uang
hasil penjualan buku ini dimasukkan ke
rekening Yayasan yang dibentuk oleh
saya dan ibu Ainun untuk menyantuni
orang cacat, salah satunya adalah para
penyandang tuna netra. Kasihan
mereka ini sesungguhnya bisa bekerja
dengan nyaman jika bisa melihat.
Saya berikan diskon 30% bagi pembeli
buku yang jumlah besar bahkan saya
tambahkan lagi diskon 10% bagi
mereka karena saya tahu, mereka
membeli banyak buku pasti untuk
dijual kembali ke yang lain.
Sekali lagi, buku ini kisah kasih
universal anak manusia dari sejak tidak
punya apa-apa sampai menjadi
Presiden Republik Indonesia dan Ibu
Negara. Isinya sangat inspiratif……………
….”
***
Saya menuliskan kembali pertemuan
pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda
Indonesia karena banyak kisah
inspiratif dari obrolan tersebut yang
barangkali berguna bagi siapapun yang
tidak sempat menghadiri pertemuan
tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada
kekurangan penulisan disana-sini
karena tulisan ini disusun berdasarkan
ingatan tanpa catatan maupun
rekaman apapun.
Jakarta, 12 Januari 2012
Salam,
Capt. Novianto Herupratomo
***
Cerita itu saya kutip dari notes
facebook disini, sebuah renungan yang
seharusnya menjadi perhatian bagi
kita. Betapa menyedihkan sebuah
bangsa yang tak pernah menghargai
orang berilmu! Tak pernah memberi
kesempatan kepada anak bangsa
untuk menjadikan bangsanya mandiri!
Entah ada apa dengan negara ini…!
Entah dimana mata dan telinga para
penguasa diletakkan!
Saya seorang peneliti, yang tahu betul
bagaimana kami dilatih untuk
bertindak. Bahwa kami harus
melakukan segala macam upaya agar
output yang dihasilkan adalah output
yang QCD!
Tak sekali dua kali proposal yang
sudah kami susun berhari-hari bahkan
berminggu-minggu mengalami
pernyempurnaan di segala sisi? Tak
sekali dua kali para evaluator selalu
menjadi pendamping kami dalam
melaksanakan serangkaian percobaan.
Tak sedikit pikiran dan tenaga kami
habis untuk bagaimana selalu
menyempurnakan metode hingga
output tercapai. Kami juga kadang tak
berontak saat kerja bertahun-tahun
tapi gaji yang kami dapat hanya setara
dengan goyangan ngebor Inul satu
jam! dan yang lebih menyedihkan,
karya kami hanya mendapat cibiran,
jika tidak akhirnya dipinggirkan!
Entah apa yang ada di benak para
penguasa negeri ini! sepertinya posisi
orang berilmu memang sudah tak lagi
mendapat tempat, jadi siapa yang
salah jika akhirnya mereka mencari
tempat lain?
Dan saya perempuan, dan seorang
muslimah. Maka apapun profesi saya,
saya tetaplah muslimah dan
perempuan. Seseorang yang
mendapat kehormatan dan kemuliaan
menjadi seorang Ummu warobatul
bait, Istri sekaligus Ibu dan pengatur
rumah tangga.
Maka jika aktivitas dan profesi yang
kutekuni menjadikanku abai terhadap
peranku, aku akan meninggalkannya
dan memilih tempat yang lebih
memuliakanku, yaitu menjadi Ibu dan
pengatur rumah tangga. Bukan
seorang Ibu semu, yang hanya
berperan melahirkan dan memberi
makan, tanpa pernah menjadi teladan,
pengajar, pendengar dan teman untuk
anak-anaknya…
Dan entah apa yang ada di benak para
penguasa negeri ini, jika RUU
Kesetaraan Gender lalu diketok palu
menjadi UU!… bersiaplah menjadi
orang-orang yang menggoreskan
catatan sedih, dengan kebijakan negeri
ini…
***
.... Segala puji bagi Allah, yang dengan
nikmat-Nya sempurnalah semua
kebaikan ....
... Semoga tulisan ini dapat membuka
pintu hati kita yang telah lama
terkunci ...
Sumber : Fp islami :)
